RSS

Rabu, 02 November 2016

Psikologi & Teknologi Internet dalam Lingkup Interpesonal

I.  Psikologi Ketertarikan Interpersonal dalam Internet

Bicara tentang ketertarikan interpersonal dalam internet, komputer merupakan media komunikasi yang memberikan tempat baru bagi pengaruh keakraban. Kenyataannya, seseorang dengan jarak ribuan mil menjadi tidak berarti dengan adanya internet walau tidak bisa bertemu. Keakraban dan jarak fungsional ditentukan oleh layar komputer. Apakah terdapat perbedaan antara hubungan yang dijalin via komputer dibanding dengan yang dibentuk dalam kehidupan sehari-hari? Jawabannya tentu saja iya, karena ketika berjumpa melalui internet, ketertarikan berkembang melalui kualitas percakapan, sedangkan mereka yang berjumpa secara langsung dengan tatap muka ketertarikannya lebih tergantung pada daya tarik fisik (Mc Kenna, Green, & Gleason, 2002). Jika kita bertemu dengan orang baru secara tatap muka kita segera melihat penampilan fisiknya. Sebaliknya, ketika orang bertemu online, mereka dapat menyembunyikan tampangnya dan ciri lain yang mungkin menurunkan daya tariknya, seperti rasa gugup saat berada dalam situasi sosial. Anonimitas internet dapat memudahkan orang untuk mengungkapkan informasi personalnya. Sebagai akibatnya, individu mungkin merasa bahwa mereka lebih mampu mengekspresikan aspek-aspek penting dari diri riil mereka saat berinteraksi melalui internet. Katelyn McKenna dan rekannya (2002) memperkirakan bahwa orang mungkin menjalin persahabatan awal dengan cepat secara online ketimbang melalui tatap muka.
Dalam beberapa hal, beberapa individu juga cenderung untuk menutup dirinya dan bersikap bohong, dimana kata-kata teks yang diungkapkan tidak sesuai dengan perilakunya dalam keseharian, kejadian ini akan terus berlanjut selama komunikasi di internet terus dilakukannya. Teks juga hanya memberikan pemahaman yang tidak memadai dalam memahami sebuah kondisi emosional, kesalahan dalam interpretasi sering terjadi dibandingkan dengan kondisi nyata (real life). Kondisi-kondisi ini akan menjadi tantangan bagi pengguna internet untuk terus melibatkan dirinya secara online lebih mendalam.
Melalui internet orang dapat melakukan komunikasi dengan orang lain atau bahkan dengan beberapa komunitas sekaligus, chatting online dengan fasilitas beberapa room yang tersedia memungkinkan seseorang dapat berkomunikasi secara bersama, atau beberapa komunitas website (social networking) seperti Friendster, MySpace, Facebook, atau Twitter yang memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk mengekspresikan dirinya ke depan publik. Beberapa individu lebih merasa dirinya nyaman bila bertemu dengan teman di dunia maya dibandingkan teman dalam dunia nyata. Individu yang ketagihan untuk terus chatting dalam menjalin hubungan dengan orang lain secara online. Kecanduan ini secara bertahap akan membuat individu tersebut lebih mementingkan orang yang ia kenal melalui online dibandingkan dalam kehidupan nyata. dari beberapa penelitian menyebutkan bahwa sebagian besar individu yang terlibat dalam komunikasi cyberspace (seperti; mailing list, diskusi group, forum, chat rooms, bulletin boards, dsb) memperoleh pengalaman-pengalaman yang menguntungkan dalam hubungan sosial, akan tetapi tidak berlanjut pada kontak sosial yang nyata. Minimnya komunikasi verbal, dimana individu mencoba memahami teks-teks kalimat yang muncul membuat kondisi tersebut menjadi sebuah tantangan yang menarik bagi pengguna internet (Huang, 1996). Sebuah hubungan interpersonal didasarkan pada tingkat pemahaman teks-teks (kalimat) menjadi daya tarik sendiri bagi beberapa orang, tidak perlu takut dalam mengungkapkan argumentasi, malu dan merasa bebas dalam mengekspresi dirinya dimana pada kenyataan sehari-hari dalam dunia nyata adalah  hal yang sulit mengungkapkan perilaku tersebut pada orang asing yang baru kita kenal.
Jadi, hubungan interpersonal adalah hubungan (yang relatif) jangka panjang antara dua orang atau lebih yang didasarkan pada emosi, ketertarikan, kesamaan minat, interaksi-interaksi sehari-hari, dan sebagainya. Hubungan interpersonal meliputi keluarga, teman, pacar, pasangan seumur hidup, kenalan, teman kerja, dan lingkungan sekitar seperti tetangga. Hubungan interpersonal dapat diatur mulai dari kesepakatan bersama, adat, sampai hukum.


II.  Hambatan Teknologi dalam Interpersonal Online-Relation

Sejalan dengan berkembangnya ketertarikan interpersonal dalam internet muncullah suatu relationship (hubungan) seperti pertemanan, murid-guru, kelompok, hubungan kerja, bahkan hubungan kekasih. Namun dalam berjalannya hubungan tersebut tidak sepenuhnya lancar atau aman, bahkan ada beberapa kejadian dimana suatu hubungan harus hancur karena beberapa hal, yaitu:

1.    Antara kedua orang tersebut kurang atau bahkan tidak merasakan kedekatan emosional karena tidak melihat wujud fisik dari lawan bicaranya.

2. Tidak dapat melihat komunikasi non verbal yang diberikan komunikator kepada komunikannya padahal komunikasi non verbal itu penting dalam melakukan komunikasi agar terbentuk mutual understanding antara keduanya.

3.    Biaya yang dikeluarkan lebih banyak daripada berkomunikasi secara tatap muka.

4.    Banyak kebohongan yang terjadi dalam penggunaan media terlebih media virtual karena tidak dapat melihat gerak-gerik yang diungkapkan dalam non verbal dari lawan bicaranya dan pesan yang disampaikan tidak dapat sepenuhnya dipertanggungjawabkan karena tidak ada bukti yang otentik.

5.    Identitas palsu. Kapasitas dunia internet yang selalu bertambah dengan berbagai macam sosial media mengakibatkan banyaknya identitas palsu. Tentunya karena adanya identitas palsu menuntut kewaspadaan tinggi para pengguna internet agar tidak mudah percaya dengan teman yang baru kenal lewat internet. Dalam dunia maya, seorang netter dapat menggunakan identitas palsu seperti identitas palsu yang dirancang seseorang pada akun facebook-nya, atau bisa juga orang tersebut memalsukan sebagian statusnya seperti seseorang yang telah menikah namun ia memasang status single pada facebook-nya untuk mencari perhatian orang lain atau memudahkannya mencapai sesuatu.

6.    Kurang terjaminnya komitmen. Setiap hubungan dibutuhkan adanya komitmen yang disetujui oleh kedua belah pihak, dan komitmen bersifat mengikat. Di dalam dunia maya, seseorang bisa saja berjanji dan kemudian secara tiba-tiba menghilang begitu saja dan melupakan semua kesepakatan.

7.  Kurang berlakunya norma dan etika Sudah tidak jarang bahkan untuk saat ini sudah banyak kita lihat seorang pengguna internet yang terlalu frontal dalam memberikan komentar-komentarnya atau bahkan informasi tentuang suatu hal di jejaring sosial. Sering adanya komentar yang kurang baik, saling terjadi pertentangan, dan perdebatan  yang biasanya tentang SARA  itu sering terjadi dalam beberapa situs. Jika anda berkunjung ke situs dimana situs tersebut memberikan informasi tentang suatu hal mengenai suatu agama, ras, atau suku maka anda akan menemui komentar-komentar yang diketik dengan eksplisit dimana pada komentar tersebut mengejek suatu ras tertentu, baik komentar pro ataupun kontra.


III.  Perilaku Negatif Interpersonal Online-Relation

Terdapat banyak perilaku negatif yang terjadi dalam hubungan interpersonal online-relation. Berikut ini dijelaskan beberapa contoh dari perilaku negatif dalam hubungan interpersonal online-relation:

    Cyber-cheating, yaitu perselingkuhan yang terjadi di internet dapat terjadi ketika seseorang yang telah memiliki pasangan kemudian memiliki hubungan yang dekat pula dengan orang lain. Misalkan seorang istri memiliki akun jejaring sosial dimana mantannya masih terdaftar dalam daftar temannya dan selama ini dia sering chatting dengan kata-kata mesra dan menggoda dengan mantannya itu, maka hal tersebut dapat dikatakan dengan cyber-cheating. Seperti kasus yang paling tragis akibat sebuah hubungan virtual dialami oleh Lin dari provinsi Harbin, Cina yang bercerai dengan suaminya karena sang suami menikah secara virtual dengan pasangannya yang ditemui di internet. Semenjak menjalani hubungan virtual, suami Lin tidak memperhatikan keluarganya di dunia nyata karena dia mengurus keluarga yang dia miliki di dunia online (Yuan & Sivelle, 2010).

   Cyber-flirting, yaitu merayu yang dilakukan dalam dunia maya. Cyber-flirting merupakan suatu hal yang umum yang terjadi di jejaring sosial bahkan game online. Namun, dalam cyber-flirting banyak terjadi ketidakamanan yang membuatnya dikategorikan sebagai perilaku negatif, contohnya adalah dalam cyber-flirting orang bisa menggunakan bahasa yang tidak pantas, ditambah lagi jika terdapat kepalsuan identitas maka semakin menjadi perilaku negatif cyber-flirting tersebut. Contoh kasusnya seperti kasus NT, seorang gadis, yang dilaporkan hilang sejak Sabtu, 6 Februari 2010. Pihak kepolisian menduga bahwa NT dibawa lari oleh seorang pria yang dikenalnya di facebook (Ariyanto, 2010).


IV.  Computer Supported Cooperative Work

CSCW (Computer Supported Cooperative Work) adalah penggunaan komputer dan software untuk melaksanakan pekerjaan secara bersama dalam sebuah grup dimana setiap anggota grup menyadari kehadiran anggota lain pada grup. Computer Supported Cooperative Work (CSCW) merupakan suatu grup user, yaitu bagaimana cara merancang suatu sistem yang digunakan untuk membantu pekerjaan sebagai suatu grup dan bagaimana memahami dampak dari suatu teknologi pada pola pekerjaan mereka. HCI berasal dari ilmu psychology-computing sedangkan CSCW bersumbu pada sociology-computing. CSCW merupakan suatu sistem komputer yang mendukung pekerjaan sebagai suatu grup yang dikenal dengan istilah groupware.
Computer Supported Cooperative Work (CSCW) menyebarluaskan hasil penelitian yang inovatif dan memberikan sebuah forum interdisipliner untuk perdebatan dan pertukaran gagasan tentang teori, masalah-masalah praktis, teknis, dan sosial di CSCW. Sistem CSCW dibangun untuk memungkinkan interaksi antara user melalui komputer sehingga kebutuhan sekian banyak user tersebut harus terpenuhi dalam satu produk.

Tujuan CSCW

a.   Mempelajari bagaimana orang bekerja sama sebagai kelompok dan apa yang mempengaruhi teknologi.
b.    Mendukung proses pelaksanaan pekerjaan walaupun secara geografis dipisahkan.

Contoh yang digunakan pada CSCW

a.    Kaloborasi para ilmuwan yang bekerja sama pada suatu proyek.
b.    Pengarang mengedit suatu dokumen bersama-sama.
c.    Programmer suatu sistem secara bersamaan.
d.   Bekerja sama dengan sharing suatu video bersama.
e.    Para pembeli dan para penjual melakukan transaksi secara eBay.

CSCW seringkali diasumsikan sebagai aspek yang dihasilkan dari sebuah groupware. CSCW lebih berorientasi kepada evaluasi terhadap hal-hal yang terjadi dalam proses interaksi antarmanusia dalam sekelompok pengguna. Interaksi tersebut antara lain:

A. Komunikasi Face To Face
Pada komunikasi face to face, tidak hanya meliputi bicara dan pendengaran, tapi juga menggunakan bahasa tubuh dan tatapan mata.

·      Personal Space
·      Kontak dan tatapan mata
·      Gerak isyarat dan bahasa tubuh
·      Back channel
·      Turn-taking

B. Percakapan
Terdapat dua prinsip ucapan antara lain:

·      Relevan, artinya bahwa suatu ucapan harus sesuai dengan topik tertentu.
·      Helpful, artinya suatu ucapan harus dapat dimengerti oleh pendengar dan tidak ada ambigu dari pemahaman pendengar.

C. Komunikasi Berbasis Teks
Ada 4 tipe komunikasi tekstual dalam groupware:

·      Discrete: pesan langsung seperti dalam email.
·      Linear: pesan partisipan ditambahkan pada akhir dari catatan tunggal.
·      Non-linear: saat pesan dihubungkan ke yang lainnya dalam model hypertext.
·      Spatial: dimana pesan diatur dalam permukaan dua dimensi.

D. Kerja Kelompok
Perilaku kelompok lebih kompleks terutama apabila kita memperhatikan hubungan sosial yang dinamis selama bekerja dalam kelompok.

·      Dinamika kelompok
·      Layout Fisik
·      Kognisi Terdistribusi