BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Budaya
atau kebudayaan secara etimologi berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah,
yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) yang kemudian
diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa
Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere,
yaitu mengolah atau mengerjakan atau dapat pula diartikan sebagai mengolah
tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai
"kultur" dalam bahasa Indonesia.
Budaya merupakan
suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok
orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya yang ada ini terbentuk
dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat,
bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga
budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak
orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang
berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan
perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah
suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas.
Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur
sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Indonesia
merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan banyaknya pulau tersebut
Indonesia memiliki beragam budaya yang sangat banyak sekali. Perkembangan
budaya Indonesia telah dimulai sejak nenek moyang kita terdahulu. Namun, tidak
sedikit terjadi permasalahan-permasalahan yang menyangkut budaya-budaya kita
ini. Sebagai contoh diklaimnya budaya Indonesia oleh negara lain atau
permasalahan antarbudayaan akibat perebutan wilayah ataupun akibat hal-hal
lain.
Seperti yang telah kita ketahui, perkembangan budaya indonesia selalu dalam
kondisi yang naik dan turun. Pada awalnya, Indonesia sangat banyak mempunyai
peninggalan budaya dari nenek moyang kita terdahulu, hal seperti itulah yang
harus dibanggakan oleh penduduk indonesia sendiri, tetapi belakangan ini budaya
Indonesia mengalami masa penurunan terhadapa sosialisasi budaya bangsa sehingga
penduduk kini telah banyak yang melupakan apa itu budaya Indonesia. Semakin
majunya arus globalisasi rasa cinta terhadap budaya semakin berkurang, dan ini
sangat berdampak tidak baik bagi masyarakat asli Indonesia.
Melihat
budaya-budaya Indonesia yang diklaim oleh negara-negara lain dan terjadinya
perselisihan antarbudaya seharusnya kita merasa miris. Masyarakat Indonesia
sendiri kurang memperhatikan bagian dari budaya Indonesia. Dan diharapkan untuk
masyarakat Indonesia lebih memperhatikan bagian dari peninggalan budaya
Indonesia dan sekarang akan diupayakan oleh pemerintah agar mendidik anak-anak
muda untuk perduli terhadap hal tersebut, dan lebih mengenalkan dari dini sikap
akan pentingnya pengetahuan budaya Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
Sesuai dengan
latar belakang masalah yang telah dijelaskan di atas, maka saya menyimpulkan
rumusan masalah dari tulisan ini adalah sebagai berikut:
- Apakah definisi dari Budaya?
- Bagaimana dan jelaskan beberapa budaya-budaya yang ada di Indonesia?
- Permasalahan apa yang pernah terjadi dengan budaya yang telah dijelaskan?
1.3 Manfaat dan Tujuan
Dengan adanya tulisan
yang membahas mengenai beberapa budaya di Indonesia ini, tentunya akan menambah
wawasan pembaca mengenai budaya yang akan dijelaskan nanti dan apa permasalahan
yang pernah ada dalam budaya tersebut. Selain itu, tulisan ini juga dibuat
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah softskill, yaitu mata kuliah Ilmu
Budaya Dasar.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Budaya
Budaya
atau Kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu
buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan
sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh
sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya
terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem
agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan
karya seni.
Berikut ini definisi
Budaya menurut beberapa ahli.
- Menurut Koentjaraningrat, Budaya merupakan sebuah sistem gagasan & rasa, sebuah tindakan serta karya yang dihasilkan oleh manusia didalam kehidupannya yang bermasyarakat, yang dijadikan kepunyaannya dengan belajar.
- Menurut KBBI, Budaya berarti sebuah pemikiran, adat istiadat atau akal budi. Secara tata bahasa, arti dari kebudayaan diturunkan dari kata budaya dimana cenderung menunjuk kepada cara berpikir manusia.
- Menurut Kluckhohn dan Kelly, Budaya merupakan segala konsep hidup yang tercipta secara historis, baik yang implisit maupun yang eksplisit, irasional, rasional, yang ada di suatu waktu, sebagai acuan yang potensial untuk tingkah laku manusia.
- Menurut E.B. Taylor, Budaya ialah suatu keseluruhan yang kompleks meliputi kepercayaan, kesusilaan, seni, adat istiadat, hukum, kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang sering dipelajari oleh manusia sebagai bagian dari masyarakat.
- Menurut Linton, Budaya merupakan keseluruhan dari sikap & pola perilaku serta pengetahuan yang merupakan suatu kebiasaan yang diwariskan & dimilik oleh suatu anggota masyarakat tertentu.
2.2 Budaya Bali
Bali berasal dari kata “Bal” dalam bahasa Sansekerta berarti “Kekuatan”,
dan “Bali” berarti “Pengorbanan” yang berarti supaya kita tidak melupakan
kekuatan kita dan supaya kita selalu siap untuk berkorban. Bali merupakan salah
satu pulau di Indonesia yang beribukotakan Denpasar. Bali merupakan pulau yang
dikenal dengan sebuatan pulau dewata dan merupakan salah satu pulau yang
meruapakan surga wisata yang memiliki daya tarik berwisata baik untuk wisatawan
asing maupun wisatawan lokal karena daerahnya memiliki keindahan yang sangat
menarik bagi para wisatawan. Masyarakat pulau ini sebagian besar memeluk agama
Hindu. Tidak hanya keindahan daerahnya saja yang menarik bawa wisatawan namun
juga keaneka ragaman kesenian serta kebudayaan yang ada di Bali pun menarik
untuk dikenal lebih jauh oleh para wisatawan.
Bali memang selalu
memberikan pesonanya serta memiliki kesenian dan kebudayaan yang beraneka ragam.
Kali ini saya akan mencoba untuk menjelaskan beberapa kesenian serta kebudayaan
yang ada di Bali.
2.2.1 Pakaian Adat Bali
Bali
memiliki banyak macan atau varian dari pakaian adatnya. Untuk perempuan yang
masih remaja menggunakan sanggul gonjer, sedangkan perempuan atau wanita dewasa
menggunakan sanggul tagel, kemudian menggunakan sesentang atau kemben songket,
kain wastra, sabuk prada (stagen) untuk membelit pinggul dan dada, selendang
songket bahu ke bawah, kain tapih atau sinjang, di sebelah dalam, beragam
ornamen perhiasan. Sering pula dikenakan kebaya, kain penutup dada, dan alas
kaki sebagai pelengkap. Untuk pria menggunakan ikat kepala atau udeg lalu
menggunakan selendang pengikat atau umpal, kain kampuh, kain wastra, keris, sabuk,
kemeja atau jas, serta ornament yang digunakan untuk menghiasi penampilan sang
pria.
2.2.2 Rumah Adat Bali
Rumah
adat Bali harus sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali ajaran terdapat pada
kitab suci Weda yang mengatur soal tata letak sebuah bangunan yang hampir mirip
dengan ilmu Feng Shui dalam ajaran Budaya China. Rumah adat Bali harus memenuhi
aspek pawongan (manusia / penghuni rumah), pelemahan (lokasi / lingkungan) dan
yang terahir parahyangan.
Pada umumnya
rumah Bali di penuhi dengan pernak-pernik hiasan, ukiran serta warna yang alami
lalu patung-patung symbol ritual. Bangunan Rumah Adat Bali terpisah-pisah
manjadi banyak bangunan-bangunan kecil - kecil dalam satu area yang disatukan
oleh pagar yang mengelilinginya. Seiring perkembangan jaman mulai ada perubahan
pada bangunan dimana bangunannya tidak lagi terpisah-pisah.
2.2.3 Tari-tarian Bali
Bali memiliki berbagai macam jenis tarian daerah
yang berasal dari daerah ini diantaranya :
Tari Pendet
Tari Pendet ini ditarikan sebagai tari selamat
datang untuk menyambut kedatangan para tamu dan undangan dengan menaburkan
bunga, dan ekspresi penarinya penuh dengan senyuman manis. Pada awalnya tarian
ini digunakan pada acara ibadah di pura sebagai bentuk penyambutan terhadap
dewa yang turun ke dunia.
Tari Panji Semirang
Tarian ini di mainkan oleh perempuan. Tari Panji
Semirang adalah tarian yang menggambarkan seorang putri raja bernama Galuh
Candrakirana, yang menyamar menjadi seorang laki-laki setelah kehilangan
suaminya. Dalam pengembaraannya ia mengganti namanya menjadi Raden Panji.
Tari Condong
Tarian ini merupakan tarian yang
cukup sulit untuk diragakan dan tarian ini memiliki durasi panjang. Tarian ini
adalah darian klasik Bali yang memiliki gerakan yang sangat kompleks dan
menggambarkan seorang abdi Raja.
Tari Kecak
Tarian ini merupakan tarian yang sangat terkenal
dari daerah Bali. Tarian ini dimainkan oleh puluhan laki-laki yang duduk bari
melingkar. Tarian ini menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu
Rama melawan Rahwana. Lagu tari Kecak diambil dari ritual tarian sanghyang
yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar,
melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian
menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.
2.2.4 Adat Kebudayaan Bali
Masyarakat Bali terdiri dari masyarakat yang
beraga Hindu namun semua itu tidak berpengaruh terhadap masyarakat lain yang
tinggal di Bali namun tidak memeluk agama Hindu. Berikut beberapa upacara yang
biasa di lakukan oleh masyarakat bali :
Pernikahan
Untuk acara pernikahan ada beberapa upacara adat
yang harus dilewati diantaranya :
Upacara ngekeb : Acara ini bertujuan untuk
mempersiapkan calon pengantin wanita dari kehidupan remaja menjadi seorang
istri dan ibu rumah tangga memohon doa restu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar
bersedia menurunkan kebahagiaan kepada pasangan ini serta nantinya mereka
diberikan anugerah berupa keturunan yang baik.
Mungkah Lawang (Buka Pintu) : Adat ini adalah
adat mengetuk pintu pengantin wanita sebanyak tiga kali, sebagai bentuk bahwa
pengantin pria telah datang untuk menjemput pengantin wanita dan memohon agar
segera dibukakan pintu.
Madengen dengan : Upacara ini bertujuan untuk
membersihkan diri atau mensucikan kedua pengantin dari energi negatif dalam
diri keduanya. Upacara dipimpin oleh seorang pemangku adat atau Balian.
Mewidhi Widana : Acara ini merupakan acara
penyempurnaan pernikahan adat bali untuk meningkatkan pembersihan diri
pengantin yang telah dilakukan pada acara sebelumnya. Lalu keduanya menuju
merajan yaitu tempat pemujaan untuk berdoa mohon izin dan restu Yang Kuasa.
Mejauman Ngabe Tipat Bantal : Setelah beberapa
hari menikah, baru upacara ini dilaksanakan. Acara ini dilakukan untuk memohon
pamit kepada kedua orang tua serta sanak keluarga pengantin wanita, terutama
kepada para leluhur, bahwa mulai saat itu pengantin wanita telah sah menjadi
bagian dalam keluarga besar suaminya.
Upacara Kematian
Masyarakat Bali selalu mengadakan upacara
kematian di saat ada seseorang atau kerabat yang meninggal dunia. Upacara
kematian ini dikenal dengan nama Upacara Ngaben. Upacara ini yaitu upacara
pembakaran bagi orang yang sudah meninggal. Pada intinya upacara ini untuk
mengembalikan roh leluhur (orang yang sudah meninggal) ke tempat asalnya.
Seorang Pedanda mengatakan manusia memiliki Bayu, Sabda, Idep, dan setelah
meninggal Bayu, Sabda, Idep itu dikembalikan ke Brahma, Wisnu, Siwa selaku Dewa
yang dipercaya oleh masyarakat atau umat hindu khususnya masyarakat hindu Bali.
2.3 Budaya Dayak
Suku Dayak (Ejaan Lama: Dajak atau Dyak) adalah nama yang oleh penduduk
pesisir pulau Borneo diberi kepada penghuni pedalaman yang mendiami Pulau
Kalimantan. Ada 5 suku atau 7 suku asli Kalimantan yaitu Melayu, Dayak, Banjar,
Kutai, Paser, Berau dan Tidung. Menurut sensus Badan Pusat Statistik Republik
Indonesia tahun 2010, suku bangsa yang terdapat di Kalimantan Indonesia
dikelompokan menjadi tiga yaitu suku Banjar, suku Dayak Indonesia (268 suku
bangsa) dan suku asal Kalimantan lainnya (non Dayak dan non Banjar). Dahulu,
budaya masyarakat Dayak adalah Budaya maritim atau bahari. Hampir semua nama
sebutan orang Dayak mempunyai arti sebagai sesuatu yang berhubungan dengan
"perhuluan" atau sungai, terutama pada nama-nama rumpun dan nama
kekeluargaannya.
Istilah "Dayak" paling umum digunakan untuk menyebut orang-orang asli
non-Muslim, non-Melayu yang tinggal di pulau itu. Ini terutama berlaku di
Malaysia, karena di Indonesia ada suku-suku Dayak yang Muslim namun tetap
termasuk kategori Dayak walaupun beberapa diantaranya disebut dengan Suku
Banjar dan Suku Kutai. Terdapat beragam penjelasan tentang etimologi istilah
ini. Menurut Lindblad, kata Dayak berasal dari kata daya dari bahasa Kenyah,
yang berarti hulu sungai atau pedalaman. King, lebih jauh menduga-duga bahwa
Dayak mungkin juga berasal dari kata aja, sebuah kata dari bahasa Melayu yang
berarti asli atau pribumi. Dia juga yakin bahwa kata itu mungkin berasal dari
sebuah istilah dari bahasa Jawa Tengah yang berarti perilaku yang tak sesuai
atau yang tak pada tempatnya.
Arti dari kata ‘Dayak’ itu sendiri masih bisa diperdebatkan. Commans (1987),
misalnya, menulis bahwa menurut sebagian pengarang, ‘Dayak’ berarti manusia,
sementara pengarang lainnya menyatakan bahwa kata itu berarti pedalaman.
Commans mengatakan bahwa arti yang paling tepat adalah orang yang tinggal di
hulu sungai. Dengan nama serupa, Lahajir et al. melaporkan bahwa orang-orang
Iban menggunakan istilah Dayak dengan arti manusia, sementara orang-orang
Tunjung dan Benuaq mengartikannya sebagai hulu sungai. Mereka juga menyatakan
bahwa sebagian orang mengklaim bahwa istilah Dayak menunjuk pada karakteristik
personal tertentu yang diakui oleh orang-orang Kalimantan, yaitu kuat, gagah,
berani dan ulet. Lahajir et al. mencatat bahwa setidaknya ada empat istilah
untuk penuduk asli Kalimantan dalam literatur, yaitu Daya, Dyak, Daya, dan
Dayak. Penduduk asli itu sendiri pada umumnya tidak mengenal istilah-istilah
ini, akan tetapi orang-orang di luar lingkup merekalah yang menyebut mereka
sebagai ‘Dayak’.
2.3.1 Adat Istiadat Dayak
Dibawah ini ada beberapa adat istiadat bagi suku dayak yang masih terpelihara
hingga kini, dan dunia supranatural Suku Dayak pada zaman dahulu maupun zaman
sekarang yang masih kuat sampai sekarang. Adat istiadat ini merupakan salah
satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia, karena pada awal
mulanya Suku Dayak berasal dari pedalaman Kalimantan.
Upacara Tiwah
Tiwah merupakan upacara yang dilaksanakan untuk
pengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke Sandung yang sudah di buat.
Sandung adalah tempat yang semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk
mereka yang sudah meninggal dunia. Upacara Tiwah bagi Suku Dayak sangatlah
sakral, pada acara Tiwah ini sebelum tulang-tulang orang yang sudah mati
tersebut di antar dan diletakkan ke tempatnya (sandung), banyak sekali
acara-acara ritual, tarian, suara gong maupun hiburan lain. Sampai akhirnya
tulang-tulang tersebut di letakkan di tempatnya (Sandung).
Dunia Supranatural
Dunia Supranatural bagi Suku Dayak memang sudah
sejak zaman dulu merupakan ciri khas kebudayaan Dayak. Karena supranatural ini
pula orang luar negeri sana menyebut Dayak sebagai pemakan manusia (kanibal).
Namun pada kenyataannya Suku Dayak adalah suku yang sangat cinta damai asal
mereka tidak di ganggu dan ditindas semena-mena. Kekuatan supranatural Dayak
Kalimantan banyak jenisnya, contohnya Manajah Antang. Manajah Antang merupakan
cara suku Dayak untuk mencari petunjuk seperti mencari keberadaan musuh yang
sulit di temukan dari arwah para leluhur dengan media burung Antang, dimanapun
musuh yang di cari pasti akan ditemukan.
Mangkok Merah
Mangkok merah merupakan media persatuan Suku
Dayak. Mangkok merah beredar jika orang Dayak merasa kedaulatan mereka dalam
bahaya besar. “Panglima” atau sering suku Dayak sebut Pangkalima biasanya
mengeluarkan isyarat siaga atau perang berupa mangkok merah yang di edarkan
dari kampung ke kampung secara cepat sekali. Dari penampilan sehari-hari banyak
orang tidak tahu siapa panglima Dayak itu. Orangnya biasa-biasa saja, hanya
saja ia mempunyai kekuatan supranatural yang luar biasa. Percaya atau tidak
panglima itu mempunyai ilmu bisa terbang kebal dari apa saja seperti peluru,
senjata tajam dan sebagainya. Mangkok merah tidak sembarangan diedarkan.
Sebelum diedarkan sang panglima harus membuat acara adat untuk mengetahui kapan
waktu yang tepat untuk memulai perang. Dalam acara adat itu roh para leluhur
akan merasuki dalam tubuh pangkalima lalu jika pangkalima tersebut ber “Tariu”
(memanggil roh leluhur untuk untuk meminta bantuan dan menyatakan perang) maka
orang-orang Dayak yang mendengarnya juga akan mempunyai kekuatan seperti
panglimanya. Biasanya orang yang jiwanya labil bisa sakit atau gila bila
mendengar tariu. Orang-orang yang sudah dirasuki roh para leluhur akan menjadi
manusia dan bukan. Sehingga biasanya darah, hati korban yang dibunuh akan
dimakan. Jika tidak dalam suasana perang tidak pernah orang Dayak makan
manusia. Kepala dipenggal, dikuliti dan disimpan untuk keperluan upacara adat.
Meminum darah dan memakan hati itu, maka kekuatan magis akan bertambah. Makin
banyak musuh dibunuh maka orang tersebut makin sakti. Mangkok merah terbuat
dari teras bambu (ada yang mengatakan terbuat dari tanah liat) yang didesain
dalam bentuk bundar segera dibuat. Untuk menyertai mangkok ini disediakan juga
perlengkapan lainnya seperti ubi jerangau merah (acorus calamus) yang
melambangkan keberanian (ada yang mengatakan bisa diganti dengan beras kuning),
bulu ayam merah untuk terbang, lampu obor dari bambu untuk suluh (ada yang
mengatakan bisa diganti dengan sebatang korek api), daun rumbia (metroxylon
sagus) untuk tempat berteduh dan tali simpul dari kulit kepuak sebagai lambang
persatuan. Perlengkapan tadi dikemas dalam mangkok dari bambu itu dan dibungkus
dengan kain merah.
2.3.2 Proses Penguburan Suku Dayak Maanyan
Setelah
seseorang dari suku Dayak Maanyan dinyatakan meninggal maka dibunyikanlah gong
beberapa kali sebagai pertanda ada salah satu anggota masyarakat yang
meninggal. Segera setelah itu penduduk setempat berdatangan ke rumah keluarga
yang meninggal sambil membawa sumbangan berupa keperluan untuk penyelenggaraan
upacara seperti babi, ayam, beras, uang, kelapa, dan lain-lain yang dalam
bahasa Dayak Maanyan disebut Nindrai.
Beberapa orang laki-laki pergi ke dalam hutan untuk mencari kayu bakar dan
menebang pohon hiyuput (pohon khusus yang lembut) untuk dibuat peti mati. Kayu
yang utuh itu dilubangi dengan beliung atau kapak yang dirancang menyerupai
perahu tetapi memakai memakai tutup. Di peti inilah mayat nantinya akan
dibaringkan telentang, peti mati ini dinamakan Rarung.
Seseorang
yang dinyatakan meninggal dunia mayatnya dimandikan sampai bersih, kemudian
diberi pakaian serapi mungkin. Mayat tersebut dibaringkan lurus di atas tikar bamban
yang diatasnya dikencangkan kain lalangit. Tepat di ujung kepala dan ujung kaki
dinyalakan lampu tembok atau lilin. Kemudian sanak famili yang meninggal
berkumpul menghadapi mayat, selanjutnya diadakan pengambilan ujung rambut,
ujung kuku, ujung alis, ujung bulu mata, dan ujung pakaian si mati yang
dikumpulkan menjadi satu dimasukkan ke sebuah tempat bernama Cupu. Semua
perangkat itu dinamakan Rapu yang pada waktu penguburan si mati nanti
diletakkan di atas permukaan kubur dengan kedalaman kurang lebih setengah
meter.
Tepat
tengah malam pukul 24.00 mayat dimasukkan ke dalam rarung sambil dibunyikan
gong berkali-kali yang istilahnya Nyolok. Pada waktu itu akan hadir wadian,
pasambe, damang, pengulu adat, kepala desa, mantir dan sanak keluarga lainnya
untuk menghadapi pemasukan mayat ke dalam rarung.
Pasambe bertugas
menyiapkan semua keperluan dan perbekalan serta peralatan bagi si mati yang
nantinya disertakan bersamanya ke dalam kuburan. Sedangkan Wadian bertugas
menuturkan semua nasihat dan petunjuk agar amirue (roh/arwah) si mati tidak
sesat di perjalanan dan bisa sampai di dunia baru. Wadian di sini juga bertugas
memberi makan si mati dengan makanan yang telah disediakan disertai dengan
sirih kinangan, tembakau dan lain-lain.
Jika penuturan wadian
telah selesai tibalah saatnya orang berangkat mengantar peti mati ke kuburan.
Pada saat itu sanak keluarganya menangisi keberangkatan sebagai cinta kasih
sayang kepada si mati.
2.3.3 Tari-tarian Dayak
Tari Gantar
Tarian yang menggambarkan gerakan orang menanam
padi. Tongkat menggambarkan kayu penumbuk sedangkan bambu serta biji-bijian
didalamnya menggambarkan benih padi dan wadahnya. Tarian ini cukup terkenal dan
sering disajikan dalam penyambutan tamu dan acara-acara lainnya.Tari ini tidak
hanya dikenal oleh suku Dayak Tunjung namun juga dikenal oleh suku Dayak
Benuaq. Tarian ini dapat dibagi dalam tiga versi yaitu tari Gantar Rayatn,
Gantar Busai dan Gantar Senak/Gantar Kusak.
Tari Kancet Papatai / Tari Perang
Tarian ini menceritakan tentang seorang pahlawan
Dayak Kenyah berperang melawan musuhnya. Gerakan tarian ini sangat lincah,
gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan si penari. Dalam
tari Kancet Pepatay, penari mempergunakan pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah
dilengkapi dengan peralatan perang seperti mandau, perisai dan baju perang.
Tari ini diiringi dengan lagu Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik Sampe.
Tari Kancet Ledo / Tari Gong
Jika Tari Kancet Pepatay menggambarkan kejantanan
dan keperkasaan pria Dayak Kenyah, sebaliknya Tari Kancet Ledo menggambarkan
kelemahlembutan seorang gadis bagai sebatang padi yang meliuk-liuk lembut
ditiup oleh angin. Tari ini dibawakan oleh seorang wanita dengan memakai
pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dan pada kedua tangannya memegang
rangkaian bulu-bulu ekor burung Enggang. Biasanya tari ini ditarikan diatas
sebuah gong, sehingga Kancet Ledo disebut juga Tari Gong.
Tari Kancet Lasan
Menggambarkan kehidupan sehari-hari burung
Enggang, burung yang dimuliakan oleh suku Dayak Kenyah karena dianggap sebagai
tanda keagungan dan kepahlawanan. Tari Kancet Lasan merupakan tarian tunggal
wanita suku Dayak Kenyah yang sama gerak dan posisinya seperti Tari Kancet
Ledo, namun si penari tidak mempergunakan gong dan bulu-bulu burung Enggang dan
juga si penari banyak mempergunakan posisi merendah dan berjongkok atau duduk
dengan lutut menyentuh lantai. Tarian ini lebih ditekankan pada gerak-gerak
burung Enggang ketika terbang melayang dan hinggap bertengger di dahan pohon.
Tari Leleng
Tarian ini menceritakan seorang gadis bernama
Utan Along yang akan dikawinkan secara paksa oleh orangtuanya dengan pemuda
yang tak dicintainya. Utan Along akhirnya melarikan diri kedalam hutan. Tarian
gadis suku Dayak Kenyah ini ditarikan dengan diiringi nyanyian lagu Leleng.
2.4 Permasalahan Budaya Bali dan Dayak
Masih
banyak budaya-budaya Indonesia yang mungkin belum kita ketahui, kita sebagai
warganegara Indonesia harusnya bangga dengan negara kita ini karena negara kita
ini memiliki budaya yang sangat beragam dibandingkan dengan negara-negara lain.
Namun, kenyataanya sudah banyak warganegara Indonesia yang meninggalkan adat
istiadat budayanya sendiri akibat dari masuknya budaya asing ke Indonesia
karena era globalisasi yang terjadi.
Pada pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya sudah membahas sedikit mengenai
budaya Bali dan budaya Dayak. Sekarang, saya akan membahas permasalahan budaya
Bali dan budaya Dayak yang pernah terjadi yang mungkin belum anda ketahui.
2.4.1 Tari Pendet yang Diklaim Malaysia
Tari Pendet
yang merupakan tarian khas asal Bali ini pertengahan tahun 2009 muncul dalam
iklan ‘Enigmatic Malaysia’ di Discovery Channel. Masyarakat Indonesia kontan
emosi. Polemik penggunaan Tari Pendet oleh Malaysia untuk iklan pariwisatanya
itu pun semakin memanas, Pemerintah Indonesia melayangkan nota protes kepada
Malaysia atas penggunaan tanpa izin itu.
Menteri Kebudayaan
dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik mengaku mengirim seorang direktur
jenderal di departemennya untuk membawa nota protes itu kepada Menteri
Kebudayaan dan Pariwisata Malaysia. "Nota protesnya sudah selesai dibuat,
dia minta segera dibalas. Semakin cepat dibalas makin cepat clear masalah
ini," tegas Jero Wacik.
Tak
cuma itu, Menteri kebudayaan dan pariwisata juga meminta Duta Besar RI untuk
Malaysia, Dai Bachtiar menelusuri pembuat iklan televisi yang menayangkan Tari
Pendet. Dia juga menghubungi Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda agar mulai
menempuh upaya diplomatik. Bahkan, ia sudah meminta klarifikasi dari Duta Besar
Malaysia untuk Indonesia, apa pun motifnya, penayangan karya Indonesia untuk kepentingan
komersial harus mendapatkan izin.
Menbudpar
menegaskan, kendati banyak budaya Indonesia yang mirip dengan Malaysia, Pendet
merupakan tarian asli Indonesia. Seluruh dunia pasti mengetahui Tari Pendet itu
merupakan tarian Bali dari Indonesia.
Belajar dari
pengalaman inilah, pemerintah daerah dan budayawan mematenkan karya seninya.
Apalagi, masih ada puluhan ribu karya budaya Indonesia yang belum dipatenkan.
Menbudpar bahkan berniat menerbitkan Surat Edaran kepada seluruh gubernur dan
kepala daerah untuk mendaftarkan karya budayanya ke Departemen Hukum dan HAM.
Disamping itu,
Pemerintah Malaysia membantah telah mengklaim Tari Pendet. Malaysia memastikan
iklan di Discovery Channel itu adalah hasil produksi swasta. "Tidak ada
klaim Pemerintah Malaysia atas tarian itu," ucap Amran Mohammad Zein,
Kuasa Usaha Sementara Duta Besar Malaysia di Indonesia. Amran mengaku, telah
terjadi kesalah pahaman dalam kasus ini. Makanya, Pemerintah Malaysia berencana
menyelidiki kasus ini.
2.4.2 Konflik Sampit
Konflik Sampit adalah pecahnya kerusuhan antar etnis di Indonesia, berawal pada
Februari 2001 dan berlangsung sepanjang tahun itu. Konflik ini dimulai di kota
Sampit, Kalimantan Tengah dan meluas ke seluruh provinsi, termasuk ibu kota
Palangka Raya. Konflik ini terjadi antara suku Dayak asli dan warga migran
Madura dari pulau Madura. Konflik tersebut pecah pada 18 Februari 2001 ketika
dua warga Madura diserang oleh sejumlah warga Dayak. Konflik Sampit
mengakibatkan lebih dari 500 kematian, dengan lebih dari 100.000 warga Madura
kehilangan tempat tinggal. Banyak warga Madura yang juga ditemukan dipenggal
kepalanya oleh suku Dayak.
Tahun 2000,
transmigran membentuk 21% populasi Kalimantan Tengah. Suku Dayak merasa tidak
puas dengan persaingan yang terus datang dari warga Madura yang semakin
agresif. Hukum-hukum baru telah memungkinkan warga Madura memperoleh kontrol
terhadap banyak industri komersial di provinsi ini seperti perkayuan,
penambangan dan perkebunan.
Banyak sebab
yang membuat mereka seakan melupakan asasi manusia, baik sebab langsung maupun
tidak langsung. Masyarakat Dayak di Sampit seperti selalu "terdesak"
dan selalu mengalah dan memang mereka lebih suka memilih mengalah.
Dari kasus
pelarangan menambang intan di atas "tanah adat" mereka sendiri karena
dituduh tidak memiliki izin penambangan, sampai kampung mereka harus
berkali-kali berpindah karena harus mengalah dari para penebang kayu yang terus
mendesak mereka makin ke dalam hutan.
Kondisi ini
diperburuk lagi oleh ketidakadilan hukum yang seakan tidak mampu menjerat
pelanggar hukum yang menempatkan masyarakat Dayak menjadi korban kasus
tersebut. Tidak sedikit kasus pembunuhan orang dayak (sebagian besar disebabkan
oleh aksi premanisme Dayak-Madura) yang merugikan masyarakat Dayak karena
tersangka (kebetulan orang Madura) tidak bisa ditangkap oleh aparat yang
"katanya" penegak hukum. Warga Sampit dan Palangkaraya juga kesulitan
mencari sembilan kebutuhan pokok (sembako). Pasalnya, tak ada lagi pedagang
eceran, karena semuanya mengungsi. Akumulasi permasalahan itu menjadikan warga
Dayak sakit hati. Namun puncaknya yaitu semenjak terjadi peristiwa pembunuhan
terhadap beberapa warga Madura di komplek perumahan yang terletak di sebelah
utara pinggiran kota Sampit yang dilakukan oleh sekelompok orang yang dibayar
oleh dua provokator masing-masing pegawai PEMDA dan Dinas Kehutanan Sampit.
Peristiwa itu terjadi tengah malam minggu (Sabtu malam 17/2/2001) sekitar pukul
23.00 WIB disaat korban sedang tidur lelap.
Warga Madura
yang berada di sekitar kejadian terkejut dan emosi mereka terpancing karena
merasa dalam keadaan bahaya dan sedang diaserang oleh sekelompok suku Dayak,
dan mereka pun melakukan pembalasan hingga trerjadilah bentrokan yang menelan
belasan korban jiwa yang terjadi esok harinya. Dengan peristiwa ini warga dayak
tidak tinggal diam mereka langsung menghadakan pembunuhan dan pembakaran
terhadap rumah-rumah warga Madura. Dayak dikenal berilmu tinggi hingga bisa membedakan suku Madura dengan
suku-suku lainnya, yang jelas suku-suku lainnya luput dari "serangan
beringas" orang Dayak. Banyak yang mengaitkan peristiwa-peristiwa aneh
selama "perang" tersebut dengan kepercayaan animisme Dayak
(Kaharingan). Bukan saja masyarakat dayak Sampit yang berada di sana, tetapi
juga ada 5 suku besar Dayak lainnya dari beberapa propinsi di pulau Kalimantan.
Bayangkan, masyarakat Dayak yang sebelumnya bukan masyarakat mayoritas di sana,
saat terjadi "perang" jumlah mereka berlipat ganda. Seperti
disaksikan oleh banyak warga Sampit, sebelum melakukan penyerangan, beberapa
subsuku Dayak memang malakukan ritual. Warga Dayak yang ikut ritual itu setelah
diisi, kulitnya dicoba disayat satu per satu. Apabila ada yang luka, berarti ia
tidak berbakat untuk mendapatkan 'kekebalan'. Bagi yang digores tidak berdarah,
maka ia lulus sebagai inti dari pasukan perang Dayak. "Isian itu dilakukan
seperti di Pencak Silat semacam Satria Nusantara," ujarnya. Selepas
'isian' habis, tambahnya, mungkin mereka baru menyadari bahwa pembunuhan yang
dilakukannya itu dilarang oleh agama yang mereka anut.
Sementara itu,
Skala pembantaian membuat militer dan polisi sulit mengontrol situasi di
Kalimantan Tengah. Pasukan bantuan dikirim untuk membantu pasukan yang sudah
ditempatkan di provinsi ini. Pada 18 Februari, suku Dayak berhasil menguasai
Sampit. Polisi menahan seorang pejabat lokal yang diduga sebagai salah satu
otak pelaku di belakang serangan ini. Orang yang ditahan tersebut diduga
membayar enam orang untuk memprovokasi kerusuhan di Sampit. Polisi juga menahan
sejumlah perusuh setelah pembantaian pertama. Kemudian, ribuan warga Dayak
mengepung kantor polisi di Palangkaraya sambil meminta pelepasan para tahanan.
Polisi memenuhi permintaan ini dan pada 28 Februari, militer berhasil
membubarkan massa Dayak dari jalanan, namun kerusuhan sporadis terus berlanjut
sepanjang tahun.
Pasukan Kepolisian dan
Tentara yang disiagakan di Sampit bersikap pengecut bahkan tidak memberikan
perlindungan kepada suku Madura. Hal itu terlihat dari ketidakmampuan mereka
dalam membendung arus perusuh Dayak yang datang membanjiri kota Sampit dan
membiarkan mereka melakukan swepping kerumah-rumah dan menghabisi jiwa setiap
orang yang diduga dari etnis Madura, dengan tidak memandang apakah itu bayi,
orang jumpo, laki-laki atau perempuan.
Bahkan
serangan-serangan yang merembak ke berbagai kecamatan dan pelosok dengan sangat
mudah dilakukan oleh para perusuh Dayak tanpa ada usaha pencegahan atau sikap
tegas dari aparat. Seharusnya aparat beritindak tegas terhadap setiap perusuh
yang memasuki wilayah tugasnya tanpa pandang bulu. Bahkan ketidaktegasan aparat
itu pun tampak dengan dilepasnya puluhan tahanan etnis Dayak perusuh dan membiarkan
mereka bergabung dengan para perusuh lainnya untuk melakukan pembunuhan.
Konflik tersebut
pun akhirnya menemui titik terang, belum diketahui pasti apakah konflik itu
benar-benar usai ataukah masih ada dendam yang tersimpan di benak suku Dayak
terhadap suku Madura.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kita sebagai warganegara Indonesia tentunya sudah tahu bahwa banyak sekali
budaya yang ada di Indonesia, mulai dari sabang sampa marauke. Adat istiadat
budaya-budaya tersebut pun sangatlah beragam. Sudah seharusnya kita bangga dan
menjaga budaya kita ini karena kalau bukan kita, siapa lagi yang akan
menjaganya. Tapi, sepertinya warganegara Indonesia sudah mulai lengah terutama
Pemerintah terhadap budaya-budaya yang ada di Indonesia ini dilihat dari
permasalahan-permasalahan budaya yang ada. Selain budayanya yang beragam,
permasalahannya pun juga beragam. Permasalahan yang saya bahas pada bab
sebelumnya hanyalah dua dari sekian banyak permasalahan budaya Indonesia.
Jadi, kesimpulan yang
bisa saya dapatkan dari tulisan ini adalah: dibalik keindahan budaya-budaya
yang ada di Indonesia, tentunya selalu ada permasalahan di dalamnya, entah
permasalahan internal maupun permasalahan eksternal.
3.2 Saran
Sebelumnya,
saya sebagai mahasiswi sangat berharap agar permasalahan-permasalahan yang
menyangkut kebudayaan Indonesia ini tidak akan terjadi lagi terutama konflik
antarbudaya seperti konflik sampit. Konflik ini merupakan konflik yang sangat
mengerikan yang pernah saya lihat, apalagi ketika saya melihat foto dan video
korban-korban tanpa kepala, bahkan ada yang dikeluarkan otaknya entah apa
tujuannya. Menurut kebudayaan Dayak memang potongan kepala tersebut melambangkan
kekuatan, namun menurut saya itu sangat tidak manusiawi. Bukan berarti saya
berpihak pada suku Madura, namun seharusnya konflik tersebut tidak terjadi
sedemikian sadisnya.
Melihat dari
permasalahan-permasalahan budaya yang ada di Indonesia, tentunya Pemerintah
harus lebih memperhatikan lagi terhadap budaya-budaya Indonesia. Selain itu,
kita juga harus ingat akan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti
berbeda-beda tapi tetap satu tujuan. Seperti kita, kita berbeda-beda agama,
budaya, suku, dan lain-lain, namun tujuan kita satu, yaitu mencapai Indonesia
yang harmonis.
DAFTAR PUSTAKA
https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya
http://www.seputarpengetahuan.com/2015/03/pengertian-budaya-menurut-para-ahli.html
http://khantydwi.blogspot.co.id/2013/06/kesenian-dan-kebudayaan-bali.html
http://febryrisdianto.blogspot.co.id/2011/04/peper-masallah-tari-pendet-yang-diakui.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak
https://thinkquantum.wordpress.com/2009/11/01/adat-istiadat-suku-dayak/
http://kendakaku.blogspot.co.id/2014/05/konflik-sampitkonflik-antar-etnis-dayak.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Konflik_Sampit
http://www.seputarpengetahuan.com/2015/03/pengertian-budaya-menurut-para-ahli.html
http://khantydwi.blogspot.co.id/2013/06/kesenian-dan-kebudayaan-bali.html
http://febryrisdianto.blogspot.co.id/2011/04/peper-masallah-tari-pendet-yang-diakui.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak
https://thinkquantum.wordpress.com/2009/11/01/adat-istiadat-suku-dayak/
http://kendakaku.blogspot.co.id/2014/05/konflik-sampitkonflik-antar-etnis-dayak.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Konflik_Sampit





Tidak ada komentar:
Posting Komentar