RSS

Minggu, 12 Juni 2016

Cerpen "Nina"

Nina

       Namanya Nina, usianya 17 tahun. Dia adalah seorang gadis yang cantik, baik, ramah, dan pintar. Ia bercita-cita menjadi seorang model, yang sayangnya ditolak mentah-mentah oleh kedua orangtuanya. Orangtuanya beranggapan bahwa dunia model merupkan dunia yang tidak baik, apalagi Nina adalah gadis yang cantik dan mudah dipengaruhi oleh orang lain. Mereka menginginkan Nina menjadi seorang dokter atau arsitek seperti kedua kakaknya yang sekarang ini sudah meraih kesuksesan.

“Kamu... kenapa kamu ingin menjadi model, hah?!”, itu respon ayahnya ketika mengetahui bahwa Nina ingin menjadi model.
“Model itu bukan pekerjaan! Harusnya kamu isi cita-citamu dengan menjadi dokter atau arsitek seperti kakak-kakakmu itu! Pekerjaan yang jelas!”
“Ta...tapi aku menyukainya, ayah. Aku sangat ingin menjadi model.”, jawabnya dengan kepala menunduk.
“Kamu bilang kamu suka?! Apa dengan menjadi model kamu bisa seperti kedua kakakmu?! Apa yang akan orang katakan pada ayah bila kamu menjadi model?!”

      Nina hanya diam dan tidak menjawab. Jika menjawab, itu hanya membuat ayahnya semakin marah. Akhirnya Nina memilih untuk menahan emosinya dan pergi masuk ke kamar sambil menangis. Air matanya terus mengalir dari kedua bola matanya yang indah hingga larut malam. Ia terus memikirkan dan mempertimbangkan cita-citanya itu dengan keinginan ayahnya. Di satu sisi, ia ingin sekali menjadi model, namun di sisi lain ia ingin membahagiakan kedua orangtuanya dengan mengikuti keinginan mereka. Nina memang begitu, ia terlalu menuruti apa yang diinginkan orangtuanya dan mengenyampingkan keinginannya. Sekolah, ekstrakulikuler, bahkan teman pun orangtuanya yang memilih. Orangtuanya sangat overprotective, mungkin karena Nina adalah anak bungsu dan merupakan anak perempuan satu-satunya.

      Meskipun Nina selalu menuruti apa kata orangtuanya, tetapi tidak jarang Nina sangat kesal karena merasa seperti anjing di dalam kandang yang ingin bebas keluar dari kandangnya dan mencari kehidupannya sendiri. Nina ingin bebas seperti teman-teman sebayanya, ia iri dengan teman-temannya yang bisa bebas bermain dan pulang hingga larut malam, bebas menjalani hidup tanpa ada ancaman dari orangtua. Bagaimana Nina bisa menjadi seorang model jika kehidupannya saja tidak bebas dan selalu dikekang oleh kedua orangtuanya. Pulang lewat dari jam pulang sekolah saja, Nina sudah dimarahi dan ditanya yang macam-macam. Apa yang dilakukan oleh Nina selalu dianggap negatif oleh orangtuanya. Nina lelah dengan sikap kedua orangtuanya yang tidak pernah mengerti dan egois.

      Banyak orang bilang bahwa Nina punya hidup yang sempurna. Rumah mewah, harta melimpah, wajah serta tubuh yang sempurna. Namun, tidak seorang pun tahu bagaimana kehidupan Nina yang sesungguhnya. Sejak kecil, ia selalu dibanding-bandingkan dengan kedua kakaknya dan semua itu tak hanya dilakukan oleh kedua orangtuanya, tapi juga seluruh keluarga besarnya. Nina merasa seperti manusia yang tidak diinginkan, selalu dianggap rendah, dan hanya menyusahkan orang lain saja.

“Aku sangat bodoh! lebih baik aku mati! Tidak ada yang menginginkan dan memikirkanku!” pikir Nina saat ia sudah tidak tahan dengan kehidupannya. Nina juga pernah berpikir untuk bunuh diri, namun Nina tidak seberani itu dan masih bisa mengontrol emosinya.

      Hal itu terus terjadi, hingga tanpa ada yang menyadari, kemarahan, kekecewaan, dan kesedihan Nina semakin menumpuk. Nina sering menangis seorang diri di sudut kamar atau mengacak-acak isi lemari karena tidak ada seorang pun yang menjadi tempat untuk mencurahkan isi hatinya. Ia menjadi sering marah pada hal-hal yang sepele tanpa alasan yang jelas. Orangtuanya khawatir ketika Nina melukai orang-orang disekitarnya. Terakhir kali, bibinya masuk rumah sakit karena di dorong dari lantai dua oleh Nina.

       Orangtua Nina berpikir bahwa ada yang aneh pada kejiwaan Nina dan memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit jiwa. Namun, Nina terus menolak jika diajak ke rumah sakit. Dia akan terus membantingkan barang jika terus dipaksa untuk pergi ke rumah sakit jiwa. Sampai pada akhirnya, pada saat Nina tidur, ayahnya secepat mungkin mengikat tubuh Nina agar ia tidak memberontak dan segera membawanya ke rumah sakit jiwa untuk diperiksa.

       Sesampainya di rumah sakit jiwa, Nina langsung diperiksa dan ditangani oleh dokter psikiater. Setelah diperiksa dan dianalisa, dokter mengatakan bahwa Nina mengalami gangguan jiwa.

“Gangguan Jiwa?!”, tanya kedua orangtuanya dengan perasaan yang sangat terkejut.
“Ya, hal ini dapat terjadi karena ia terlalu depresi atau terlalu banyak menerima tekanan. Nina seperti banyak menyimpan kemarahan di dalam dirinya.”, Dokter menjelaskan.

       Orangtua Nina pun seketika terdiam saat mendengar perkataan dokter itu. Mereka sadar bahwa perlakuan mereka selama ini memang terlalu menekan Nina. Ini merupakan sebuah cambukan bagi mereka, mereka sama sekali tidak menyangka anak mereka menjadi seperti ini karena ulah mereka sendiri. Akhirnya mereka pun menyesal atas apa yang telah mereka perbuat kepada Nina.

       Sejak saat itu, Nina pun harus dirawat di rumah sakit jiwa tersebut hingga sembuh. Orangtua Nina pun menjadi sangat baik dan perhatian kepadanya, bahkan terlampaui baik. Setiap hari orangtuanya datang untuk menjenguk. Namun, semua itu sudah terlambat. Nina tidak pernah mau bicara lagi dengan kedua orangtuanya. Ia hanya diam sambil melihat sinis kedua orangtuanya ketika diajak bicara oleh mereka.
    
     Bulan demi bulan telah dilewati dan belum ada sama sekali perubahan terhadap kondisi kejiwaan Nina, malah tampak semakin memburuk. Pada akhirnya orangtua Nina pun menyerah dan tidak mengunjungi Nina lagi. Tak ada seorang pun yang mengajak Nina bicara kecuali dokter dan para perawat di sana.

      Suatu malam ketika tak seorang pun tahu, Nina telah mencapai puncak. Ia merasa berada dalam kegelapan tanpa ujung dengan suara-suara yang terus menggema di kepalanya. Suara-suara itu sepertinya dikenali oleh Nina, semakin lama semakin jelas terdengar di telinganya dan semakin keras seperti suara gong yang dipukul dekat telinganya. Tidak lama kemudian, Nina pun berhalusinasi. Nina melihat begitu banyak orang yang sedang mengelilinginya sambil mengucapkan kata-kata yang membuat telinganya panas.

“Dasar tidak berguna!”
“Bocah sialan!”
“Tidak punya teman!”
“Kamu sudah sepantasnya mati!”
“Pergi dari dunia ini!”
“Aku tidak ingin melihatmu!”
      

      Kata-kata itu terus menggema, memenuhi seluruh kepalanya hingga rasanya nyaris pecah. Nina sudah tidak kuat lagi menahan ini semua. Nina berharap melihat kedua orangtuanya pada saat itu juga.

“Ayah... Ibu... kalian dimana? Aku butuh kalian. Siapa aku? Dimana aku? Apa yang terjadi padaku? Siapa mereka? Tolong aku!!!”, Nina berteriak kencang sambil memegang keras kepalanya.

    Suara-suara itu pun akhirnya perlahan-lahan semakin jauh hingga akhirnya menghilang. Seketika setelah suara itu hilang, tiba-tiba paru-paru Nina terasa penuh, Ia tidak mampu lagi untuk bernapas. Jantungnya semakin sakit, rasanya sangat sakit. Nina juga tidak mampu lagi untuk bangun, hingga pada akhirnya jantungnya berhenti berdenyut. Setelah kejadian itu, Nina tidak lagi merasakan rasa sakit, sekarang Nina sudah merasa sangat baik dan tenang.

      Keesokan harinya, seluruh pekerja rumah sakit tersebut berduka, begitu pula dengan kedua orangtua Nina. Anak kesayangan mereka yang selama ini mereka abaikan, ditemukan bersimbah darah di halaman rumah sakit. Tepat dibawah kamarnya, ia meninggal bunuh diri karena melompat dari jendela kamarnya yang berada di lantai 5.



Nama: Elintia Devi
Kelas: 1PA16
NPM: 12515172

Tidak ada komentar:

Posting Komentar